intermezo with

Dia Yang Dinamakan Pelangi

Posted in Uncategorized by kifaruqi on September 24, 2016

Suaranya renyah, beberapa kali di pagi hari belakangan ini aku selalu mendengarnya ketika menunggu lift di lobby kantor, 07.45 lebih sedikit atau kurang sedikit. Dia selalu terlihat riang, aku pernah menaksir bilangan umurnya dan mengambil angka 25 sebagai hasil final. Motif kotak-kotak menjadi pilihan favorit corak kemejanya, riasan wajah yang sederhana dan sepatu kanvas, terlihat berbeda dengan wanita-wanita di kantor yang selalu terlihat mencolok rapi dengan sepatu hak tinggi. Aku selalu berusaha satu lift dengan wanita tersebut setiap pagi, dengan tujuan agar bisa memandangnya dari pantulan dinding lift. Dia menempati lantai yang berbeda, aku sempat melirik ketika dia menekan angka sewaktu menaiki lift.

Suatu pagi awal musim penghujan, aku sampai di lobby kantor dengan keadaan basah kuyup karena menerobos hujan dengan bersepeda, jas hujan tidak membantu banyak ternyata. Lobby kantor terlihat lengang mungkin karena hujan yang turun semenjak subuh tadi sehingga membuat macet lalu lintas kota. tidak beberapa lama wanita yang setiap pagi aku nantikan kehadirannya datang dengan keadaan yang tidak jauh berbeda.

“kehujanan yah..??” aku memberanikan diri bertanya, pertanyaan bodoh untuk memulai pembicaraan untuk orang yang baru dikenal.

“iya,,payung nya ketinggalan di metromini,,jadi tadi lari menerobos hujan” senyum menutup kalimatnya, ah beruntung lah dia tak menjawab ketus.

“hoooo…iya nih aku juga kehujanan” aku menjawab, walaupun dia tidak menanyakan.

Tidak lama beberapa orang datang dengan keadaan yang sama seperti kami berdua sebelum pintu lift terbuka, kami bersama-sama memasuki lift sebagai tanda akhir pembicaraan. Dia turun tepat satu lantai dibawah kantor ku berada. Sesampai di meja aku tidak fokus bekerja, memasang earphone dengan volume maksimal dan memutar lagu Embrace – Glorious Day berulang-ulang, menunda membalas email hingga waktu makan siang. Hari itu aku merasa ingin memperlambat waktu.

Beberapa hari belakangan aku harus berangkat lebih pagi karena dikejar oleh hantu yang bernama “pekerjaan”, aku tidak melihat wanita bersepatu kanvas di beberapa pagi, rasa rindu tiba-tiba menyergap. Di satu malam selepas jam kerja menjelang isya ketika aku butuh pengalih perhatian sejenak dari rutinitas, pergilah aku bersepeda menerabas padatnya lalu lintas Jakarta. Langit baru saja usai membagi kebahagiaan dengan makhluk di bumi: wangi tanah basah, semilir udara sejuk dan senarai klakson mengiringi putaran roda sepeda ku hingga taman kota. Sesampainya di taman, aku memarkir sepeda di tiang lampu taman tidak jauh dari perempatan jalan, karena letak taman tersebut persis di sisi perempatan lampu merah, memesan kopi hitam di penjual minuman kaki lima dan menyalakan sebatang rokok. Aku menghembuskannya perlahan, mencoba menikmati.

Tampaknya malam itu semesta berkonspirasi, coba tebak apa yang aku temukan? si wanita bersepatu kanvas sedang menyebrangi jalan, membawa payung yang dilipat berjalan ke arah taman. Dadaku berdesir, sudah lama aku tak merasakan hal ini. Aku memerhatikannya beberapa langkah, hingga tatapan mata kami bertemu, sejurus kemudian aku menunduk canggung berusaha sibuk memainkan handphone menghilangkan kegugupan.

Tiba-tiba ada suara menyapa dibarengi dengan ujung payung yg menyentuh kaki ku “Hai..yang dulu bertemu di lobby kan?” , renyah, gugup ku hilang.

“hai juga,,,ngggg eh iya betul” aku menjawab sembari berpura-pura mengingat kejadian yang dia sampaikan, salah satu teknik agar terlihat keren yang aku pelajari dari seorang kawan berusaha aku praktikan. Tanpa dipersilahkan dia sudah duduk di samping ku, tas yang diapitnya diletakkan diantara tempat aku dan dia duduk, seperti membatasi.

Aku memandang ke kakinya, masih sepatu kanvas yang sama yang dipakai seperti hari pertama kali menyapa.

“dari mana?” dia melanjutkan pembicaraan,

“dari kantor” aku menjawab singkat.

“kau sendiri dari mana dan hendak kemana?” aku berusaha merangkai pertanyaan,

“dari kantor juga dan hendak ke taman ini” dia menjawab sambil melemparkan pandang ke sekeliling. Aku memerhatikan poni rambutnya yang mengayun. Beberapa saat sesi tanya jawab kami terhenti, aku menarik satu hisapan rokok terakhir sebelum aku matikan.

“sedang menunggu seseorang?” aku memancing lebih jauh, “engga, aku biasa sendiri kalau ke taman ini” sebuah jawaban yang setiap pria harapkan. Dia bangkit dari tempat duduknya, menghampiri pedagang kaki lima memesan sesuatu kemudian kembali lagi ke tempat duduk, mengambil tissue dari dalam tas untuk membersihkan cipratan air pada kakinya. Tidak lama kemudian pedagang kaki lima datang sambil membawakan segelas susu coklat hangat dalam wadah gelas plastik seperti kemasan air mineral, dia mengucapkan terima kasih sambil tersenyum.

“Aku tidak terbiasa meminum kopi, kopi terkadang malah membuatku pusing” ucapnya sambil menyesap susu yang masih terlihat mengepul, dia mengecapkan bibirnya kepanasan, aku tertawa.

Dia menceritakan alasannya mengapa sering datang ke taman dimana kami berada selepas pulang kerja adalah semata-mata untuk menyaksikan temaram lampu taman, sambil memerhatikan orkestra para komuter yang pulang ke peraduan. Para komuter sangatlah menarik ketika senja tiba, mereka seperti mengakumulasi rindu di setiap jarak yang mereka tempuh untuk segera tiba di peraduan, itulah mungkin yang menyebabkan mereka tidak tergesa. Karena bukankah rindu yang semakin membuncah membuat waktu ketika pelampiasan rindu tiba semakin sentimentil. Berbeda dengan pagi hari, semua orang tergesa mungkin ingin agar fase tersebut cepat berlalu.

“Pada awal kedatangan ku, aku mencari hal yang bisa membuat ku bertahan hidup di kota ini, kemudian aku menemukan senja”, dia berkata lugas.

“Suasana senja di hari kerja adalah bagian dari kota ini yang aku senangi, hal tersebut memberiku energi dan harapan” dia mengatupkan bibirnya, matanya berbinar. Kita memang seringkali harus mencari alasan untuk melakukan sesuatu agar gairah tetap terjaga.

Susu di dalam gelasnya hampir habis, kata-katanya mengalir menceritakan berbagai macam gerak-gerik para komuter yang diperhatikannya setiap senja. Cara dia menceritakan sangat menarik, seolah-olah dia sudah kenal lama dengan para komuter itu. Dia meneguk sisa susu dalam gelas, kemudian bangkit dan berkata

“yuk kita pulang, pesan apa saja tadi? aku yang traktir ya” lalu berjalan menuju pedagang untuk membayar tagihan tanpa sempat memberikan kesempatan pada diriku untuk menjawab.

Aku setengah berlari mengambil sepedaku yang terparkir kemudian aku menghampirinya, “pulang kemana?” aku bertanya.

“Aku menyewa kostan di belakang kantor. Kamu sendiri pulang kemana?”.

“Aku juga menyewa kamar kost dekat kantor, tapi berbeda arah dengan kostan mu” aku menjawab sambil mengiringi dia berjalan, sepeda aku tuntun.

“Mau diantar?” aku menawarkan diri sambil mencuri-curi simpati.

“Tidak usah, aku naik umum saja. Lagipula mau dibonceng dimana aku nanti”,

Aku tertawa kering. Sewaktu membersamai dia menunggu kendaraan umum, aku menggunakan kesempatan tersebut menanyakan nomor telepon.

“Aku masih punya hutang segelas kopi, bila ada kesempatan aku ingin membayarnya lunas. Dengan menyimpan nomor mu, aku jadi mudah untuk membuat janji nanti” aku beralasan.

Dia memberhentikan mikrolet, sebelum dia menaiki mikrolet kita saling mendoakan agar berhati-hati. Aku memerhatikan mikrolet yang dia tumpangi lamat-lamat hilang, kemudian aku memacu sepeda menuju kostan. Di ujung bibir ku, senyum menggantung.

**

Hari ini, Kamis, berjarak satu minggu dari waktu terakhir kita bertemu, aku baru saja pulang dari tugas luar kota Rabu malam sehingga kembali tidak menjumpai nya seminggu kebelakang. Sebelum ritual mandi pagi aku mencoba mengajaknya membuat janji lewat pesan singkat, aku mengajaknya bertemu di tempat yang sama esok malam, Jumat malam merupakan festival bagi para pekerja, karena Sabtu malam biasanya adalah waktu untuk keluarga.

Ini adalah pesan singkat pertama yang aku kirim semenjak kita bertukar nomor telepon, aku terlalu takut untuk memulainya, pesan terkirim, hatiku berdegup, cemas. Sepanjang perjalanan ke kantor aku terus memikirkan jawaban apa yang akan aku terima. Sampai jam pulang kerja tiba aku tak kunjung mendapat balasan, berbagai asumsi negatif mulai berkelebatan. Menjelang tidur aku membolak-balikan badan tak henti, hingga tertidur balasan tak kunjung tiba.

Pagi hari matahari mengintip mesra dibalik fajar, akhirnya dia mengirim balasan “bagaimana kalau kita ganti tempat, Jumat malam ada pertunjukan dari band yang aku suka di kedai kopi arah selatan kota. kita bertemu disana saja”, aku menyanggupi dalam ketidaksadaran karena rasa senang, kebetulan juga aku menyukai band yang disebutnya.  Sepanjang hari aku bersenandung riang dalam hati, menyambut malam hari.

 

Tepat jam 8 malam aku sudah hadir di kedai kopi yang ditunjukkan olehnya, orang-orang sudah mulai berdatangan. Aku mencari sekeliling, dia ada di barisan belakang menyelimuti dirinya diantara kawanan.

“Hai,,maaf membuat kamu menunggu” aku membuat penyesalan, harusnya aku pergi lebih awal karena lalu lintas di Jumat malam memang lebih padat dibandingkan malam-malam lainnya, deru mesin-mesin barulah reda lepas tengah malam.

“Tidak apa-apa, aku juga baru saja datang”, syukurlah kata ku dalam hati.

Sepanjang acara kami berdua bernyanyi bersama kerumunan, aku sekali-kali mencuri pandang ke arahnya, sela-sela rambutnya membiaskan cahaya yang datang dari arah samping dia berdiri. Di beberapa jeda lagu, kami saling melempar pandang.

Acara selesai pukul 11 malam, kerumunan berangsur meninggalkan tempat acara, tapi kami memilih untuk duduk sejenak sambil menghilangkan rasa haus karena bernyanyi di sepanjang acara.

“Terima kasih telah memilihkan acara dan tempat yang keren malam ini. Aku bisa menutup minggu ini dengan kegembiraan” kataku mencoba memberi pujian, dia hanya tertawa, mungkin isyarat bahwa dia mengetahui apa yang aku maksudkan. Dia mengaduk teh manis hangat yang dipesannya, menarik cara dia mengaduk campuran teh dan gula, dia mengaduknya berlawanan arah jam berbeda dengan kebanyakan orang.

“Menikmati gelaran musik yang keren merupakan cara yang tepat menutup pekan kerja, ketegangan di tempat kerja akan larut didalamnya” dia menjawab

“Karena seni melembutkan hati. Tempat kerja seringkali membuat orang teralienasi dari masyarakat, bahkan dari keluarga. Hati-hati mereka mengeras, karena yang dominan hanyalah kompetisi. Padahal lingkungan di luar tempat kerja tidak peduli apa posisi dan apa yang telah diraih oleh seseorang di tempat kerja. Karir kita di tempat kerja tidak mempunyai relevansi di masyarakat”

“Kita seringkali lupa peran kita masing-masing”

Beberapa orang mulai merapihkan tempat acara, panggung sederhana yang digunakan acara tadi mulai dibongkar, sederhana sekali hanya terdiri dari kursi dan alat-alat pendukung. Seorang pelayan datang ke arah kami menyerahkan tagihan dan menanyakan apakah ada pesanan lagi, karena tempat akan segera ditutup. Kami menjawab tidak, sambil menyerahkan sejumlah uang sesuai tagihan.

“Aku yang bayar sekarang, kan sudah janji”, aku meyakinkan

Kami memutuskan untuk berjalan kaki sambil sesekali mencoba memberhentikan taksi, karena di tempat kami tadi banyak orang berebut memberhentikan.

“Enak juga berjalan menjelang tengah malam seperti ini, aku senang berjalan kaki tapi tidak di waktu seperti ini” dia mencoba mengafirmasi keadaan.

“Berjalan kaki membuat aku bisa merefleksikan kembali segala hal yang telah aku lalui, waktu serasa dilambatkan ketika aku berjalan kaki. Aku sering baru menyadari hal-hal yang terlewat dalam hari-hari yang telah aku lalui, kemudian menyesal telah melewatkannya begitu saja.”

Akhirnya kami berhasil memberhentikan taksi, kami sepakat untuk berbagi taksi karena kembali ke arah yang sama

“Waktu seringkali mencuri momen yang seharusnya kita nikmati. Kita baru akan menyesal ketika sudah merasa kehilangan, tapi berapa banyak orang menyadari tentang kehilangan?” dia melanjutkan

Aku berusaha mencerna perkataannya, waktu memang bisa menjadi ancaman terhadap momen. Tapi aku tidak pernah memikirkan sejauh yang dia katakan.

“Mungkinkah kita menciptakan momen yang seharusnya tidak ada?” dia melemparkan pertanyaan

Aku bingung, “Bisa, tapi mungkin hanya dalam pikiran. Bukankah kita sering mengandai tentang hal yang kita inginkan terjadi?”

Dia hanya membalas dengan tersenyum, kemudian memberhentikan taksi. “Aku disini saja, kostan ku ada di dalam gang ini, tinggal jalan sedikit”.

“Terima kasih telah menghadirkan ku selama ini” dia mengucapkan seperti berpamit, kemudian dia berjalan ke arah gang dan hilang dari pandangan.

Aku melanjutkan perjalanan dengan taksi, tubuh aku sandarkan di pintu sebelah kiri, melemparkan pandangan ke arah jajaran lampu kota.

**

Hari Senin aku berniat mengajaknya makan siang di luar, tadinya hal ini ingin aku sampaikan di pagi hari kalau kami berpas-pasan. Rupanya aku tidak menjumpainya, akhirnya aku sampaikan melalui pesan singkat. Ada suatu tempat tidak jauh dari gedung kantor ku yang menjual berbagai macam makanan sepanjang jalan. Kebanyakan makanan jajanan dari daerah-daerah, karena jalan itu tepat berada di samping sekolah yang besar, wajar kalau banyak yang dijual adalah jajanan. Hingga menjelang makan siang tidak ada jawaban, aku memutuskan untuk membatalkan. Mungkin dia sibuk, aku mencoba menenangkan hati. Hingga malam, pesan ku tidak berbalas. Aku mencoba menenangkan hati (kembali) dengan tidur.

Lusa aku coba menghubunginya kembali melalui pesan singkat, mencoba mengajaknya datang ke suatu pameran film di sebuah kedutaan besar negara kontinental. Sama seperti kemarin pesan ku tak berbalas, aku mulai cemas. Aku berniat akan menyambangi lantai tempat dia bekerja esok pagi. Sudah tiga hari dia tidak membalas pesan ku. Aku merasa posesif

Aku meyakinkan diri datang di lantai tempat ia bekerja, bukan hal lumrah aku lakukan kepada orang yang pernah dekat dengan ku sebelumnya, menanyakan kepada resepsionis dimana letak meja kerjanya. Tapi resepsionis menjawab tidak ada seperti nama yang aku sebutkan yang bekerja disana. Aku sempat sedikit bersitegang dengan resepsionis tersebut, mana mungkin tidak ada.

Sore hari aku kembali mencoba menghubunginya. Kali ini aku memberanikan diri untuk meneleponnya, ada jawaban dari seorang

wanita di seberang sana. Tapi nada suaranya seperti bukan nada suara dia, aku menyebut nama, tetapi wanita tersebut menjawab salah sambung. Aku melihat nomor yang tertera di layar handphone, “ah benar ini nomornya” aku menggumam, aku menanyakan untuk kedua kalinya kepada suara wanita diseberang sana, wanita tersebut tetap menjawab salah sambung, lalu menutup telepon. Aku kebingungan.

Esoknya, sepulang kerja aku datang ke taman kota, barangkali dia ada disana, harapku. Aku menunggu nya tepat di tempat kita pernah bertemu. Hingga malam larut, tidak tampak dia datang, aku kembali pulang.

Jumat sore aku kembali ke taman kota, menunggu di tempat yang sama, aku mencoba menanyakan ke pedagang kaki lima dengan menerangkan ciri-ciri dari dirinya, aku tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Selepas isya aku kembali ke kostan.

Sesampainya di kostan rasa cemas ku semakin menjadi, aku mencoba menenangkan diri, nikotin memenuhi tubuh ku, entah sudah berapa batang rokok aku habiskan dalam waktu sesingkat ini. Mungkinkah ia pindah tempat kerja dan mengganti nomor? tapi hal itu merupakan hal yang tidak mungkin.

Aku berniat mencarinya ke kostan tempat dia berada, tapi aku tidak tau dimana kostannya berada. Aku hanya sebatas mengetahui gang tempat kostannya berada. Akhir pekan aku memacu sepeda ke daerah kostannya berada, aku menyelusuri perlahan gang yang dia masuki, dua kali balikan. Akhirnya aku berhenti di bibir gang yang mengarah ke jalan besar. Lama aku duduk disana, berharap dia turun dari kendaraan atau keluar dari gang ketika hendak pergi. Tapi nihil.

Aku kehilangan harap, hampir setiap sore dalam sebulan aku selalu pergi ke taman kota. Menunggu di tempat yang sama, tapi aku tidak kunjung menjumpainya. Mencoba mengirim pesan, tapi jawaban yang diberikan adalah “maaf salah kirim”. Bahkan di tempat kerja aku berusaha menelusuri namanya melalui mesin pencari, tapi tidak mendapatkan hasil.

Aku benar-benar sampai ketitik terdalam dalam pengharapan, hal ini berdampak pada kehidupan keseharian ku. Aku tidak berani menceritakan hal ini kepada siapa pun, aku tidak ingin dianggap macam-macam oleh orang sekitar.

Rabu sore di bulan yang basah itu aku kembali ke taman, kembali duduk di tempat yang sama. Mengingat hal yang sama hingga malam tiba, tiba-tiba aku mengingat perkataannya yang berterima kasih karena menghadirkan dirinya selama ini, aku tercenung.

Aku tercenung lama sekali, hingga hujan rintik menyadarkan ku. Aku kemudian menuju ke tempat sepeda ku terparkir menuju pulang, sebelum beranjak aku merogoh handphone yang aku tempatkan di saku kanan celana, membuka daftar kontak, mencari nama Pelangi. Aku menekan tombol hapus, “Apakah anda ingin menghapus Pelangi dari kontak?” aku pilih opsi  “Ya”.

Jakarta, awal tahun 2013

lagu latar: Kubik – Matel

Mengenang Persentuhan Awal dengan Belle and Sebastian

Posted in Uncategorized by kifaruqi on Agustus 14, 2016

Bulan-bulan basah tahun 2005, ketika hujan menyapu debu jalan Geger Kalong-Ciwaruga. Pada masa itu, hujan selalu menjadi penanda akan adanya peristiwa menarik yang akan menjelang. Termasuk diantaranya ketika harga BBM naik dan beberapa kawan melakukan longmarch Bandung-Jakarta menentang kenaikan harga. Pak Sapardi telah membuat hujan menjadi kata benda yang sentimentil lebih dari enam belas tahun sebelumnya. Semenjak membaca karya Pak Sapardi di tingkat akhir Sekolah Menengah Atas, perasaan sentimentil selalu hadir berkala setiap musim penghujan datang, termasuk sore itu. Saya mempercayai tidak ada peristiwa yang kebetulan, sore selepas jam kuliah sahabat saya Uphei membawa sebuah CD tepat sebelum hujan turun. Format CD menjadi juru selamat bagi para mahasiswa berbiaya pas-pasan seperti saya yang ingin ikut menikmati musik, karena membeli kaset pita mempunyai persamaan linear negatif dengan jatah makan harian. Ditambah lagi dengan perjalanan ke Dewi Sartika atau Dipati Ukur untuk mendapatkan rilisan yang tidak biasa, maka senjakala era kaset pita sedikit banyak patut disyukuri.

Hujan mulai turun. Seperti rangkap dengan alam, Uphei memilihkan lagu Belle and Sebastian – Get Me Away From Here I’m Dying. Suara Stuart Murdoch memenuhi kamar 3×4, beriringan dengan latar rintik air yang mulai deras. Uphei bertugas layaknya terapis di masa awal kuliah ketika otot-otot gendang telinga saya sedang lelah dengan ramones, the clash, sham 69, minor threat, warzone, strife dan segala band punk, oi, hardcore, post-hardcore. Perkenalan awal dengan Uphei, saya sudah lupa momen tepatnya, berawal dari kamar kost seorang kawan, Asep dari Sumedang, yang setiap pagi tidak bosan memutar album pertama Rocket Rockers sambil sesekali bernyanyi mengikuti langgam khas Ucay di lagu She’s My Cheerleader (plis atuh lah sep). Uphei selalu berhasil memberikan nuansa dengan pilihan-pilihan lagunya. Galib diketahui, Uphei adalah sarang curhat bagi mereka yang sedang dilanda kerisauan akan asmara, maka dia akan memilihkan lagu sesuai dengan tema curhat yang sedang berlangsung.

Belle and Sebastian merupakan band yang terbentuk di kota Glasgow pada tahun 1996 yang diniatkan untuk mengerjakan project di Stow College. Walau tidak “sebesar” skena Manchester, banyak band/musisi yang berasal dari Glasgow yang berdiri di lampu sorot panggung, sebut saja Aztec Camera pada era 70an, The Jesus & Mary Chain, Teenage Fanclub di era 80an, kemudian Camera Obscura, Travis, Mogwai pada era yang sama dengan Belle and Sebastian. Walaupun menjamurnya musisi yang berasal dari Glasgow (dan Skotlandia pada umumnya) pada saat itu tetapi ada satu hal mereka mereka sadari, bahwa mereka mempunyai kendala jalur promosi dan distribusi yang menyulitkan untuk berkembang. Sehingga bila ada musisi yang ingin karyanya tersebar luas, mereka harus bergantung ke arah selatan tepatnya di Inggris, sang negara sepersekutuan.

Pada awal kehadirannya, Belle and Sebastian merupakan band yang mistis sekaligus intim. Mistis karena tidak banyak hal didapat mengenai band ini. Padahal pada saat If You’re Feeling Sinister dirilis, album tersebut menyedot perhatian media dan masuk dalam radar para pengkoleksi musik, tetapi Murdoch menolak memberikan keterangan terkait dengan segala hal yang berhubungan dengan band nya. Bahkan majalah sekelas NME pun diacuhkan, mereka hanya berkomunikasi melalui liner-note dan diary online, meninggalkan banyak pertanyaan. Mereka baru membuka komunikasi kepada media secara resmi ketika album Dear Catastrophe Waitress dirilis tahun 2003.

Karena sikap mereka yang tertutup pada media pula yang menyebabkan keintiman dengan para pengagum musik mereka terbentuk. Tahun 1990an adalah awal dari Internet secara masif digunakan, mailing list dan BBs merupakan dua hal yang sangat populer saat itu. Beberapa pengagum Belle and Sebastian menginisiasi mailing list The Sinister, sebuah mailing list yang berisikan para pengagum dari Belle and Sebastian. Pada awalnya mailing list tersebut dibentuk bertujuan untuk mencari informasi segala macam hal mengenai Belle and Sebastian dikarenakan minimnya pemberitaan akan mereka di media. Tetapi mailing list The Sinister berkembang menjadi lokus persahabatan antar penggemar bahkan ajang mencari jodoh, mereka membicarakan segala macam hal didalamnya, tidak selalu Belle And Sebastian-centric. Topik yang dibahas bisa merupakan kesenangan pribadi atau hal-hal yang menarik menurut mereka. Uniknya pada personil Belle and Sebastian terlibat pada mailing list tersebut. Karena mailing list ini pula, banyak yang berkomentar bahwa Belle and Sebastian telah menjadi suatu kultus tersendiri. Dan jangan melupakan Bowlie Weekender, sebuah acara festival yang diadakan selama tiga hari pada bulan Agustus 1999. Band yang tampil pada Bowlie Weekender adalah hasil kurasi dari personil Belle and Sebastian. Festival ini seperti memindahkan para pelanggan mailing list The Sinister ke sebuah tempat untuk berkumpul secara luring.

Keintiman yang dipilih Belle and Sebastian, mengingatkan diri saya akan lingkaran-lingkaran kecil persahabatan yang pernah saya bangun, beberapa lingkaran tidak pernah genap dalam beberapa tahun terakhir karena semangat “will to power” yang mulai merasuk. Tidak ada salahnya saya coba hela sejenak beberapa hal demi menggenapi kembali lingkaran.

Lagu Pengiring: Belle and Sebastian – Get Me Away From Here I’m Dying

Simbol Yang Teralienasi

Posted in Uncategorized by kifaruqi on Mei 18, 2016

Ada dua pendekatan berbeda antara Karl Marx dan Antonio Gramsci dalam hubungan antara base (segala sesuatu untuk memproduksi: tanah, mesin, pabrik, dll) dan superstructure (budaya, kepercayaan, institusi sosial) dalam human society. Marx mengambil pendekatan bahwa superstructure dibentuk dari pandangan para individu yang menguasai/mengontrol yang ada pada base, intinya Marx memberikan prioritas pada base. Segala perubahan yang ada di superstructure haruslah berkaitan dengan perubahan yang lebih dulu terjadi pada base. Marx, boleh dibilang sedikit mengkesampingkan ideologi dalam hubungan antara dua komponen tersebut, karena dalam pandangan Marx ideologi bersifat abstrak dan metafisik. Sehingga, tidak mungkin mensertakan ideologi sebagai faktor yang mendominasi.

Gramsci mempunyai pandangan yang berbeda dengan Marx mengenai hubungan antara base dan superstructure. Menurut Gramsci, ideologi adalah bentuk dari superstructure. Ideologi menurut Gramsci, merupakan instrumen yang melindungi dan menyediakan keberlanjutan dari base (produksi dan faktor produksi). Gramsci merumuskan apa yang disebut dengan hegemoni kultural (cultural hegemony), sebuah konsep yang menyatakan bahwa dominasi, aturan-aturan, nilai-nilai normatif yang terejawentahkan sesuai dengan ideologi yang dianut kelompok yang dominan. Pandangan yang dianut oleh kelompok yang dominan akan disebarkan melalui institusi sosial seperti: institusi pendidikan dan media yang kemudian akan membentuk budaya pada masyarakat. Ketika berbicara budaya dalam konteks sosiologi maka hal tersebut tidak lepas dari simbol-simbol ekspresif seperti norma, nilai, sistem sosial dalam masyarakat. Sehingga apa yang tampak merupakan ekspresi dari pandangan yang dianut. Walaupun menurut Umberto Eco, simbol-simbol ekspresif tersebut bisa jadi merupakan ungkapan nilai kebohongan (atau kebenaran).

Selepas adzan isya, saya duduk bertiga bersama kawan memperbincangkan segala macam hal sebagai alasan agar bisa duduk menghabiskan kopi dalam cangkir. Ada pembicaraan menarik mengenai fenomena saat ini yang kami tangkap kemudian dibandingkan dengan apa yang kami alami sewaktu masa kecil dahulu. Beberapa tanda-tanda yang kami kenal dahulu sedikit demi sedikit menghilang dari masyarakat. Seberapa antusias anak-anak sekarang ketika senja menjelang berbondong-bondong mengisi surau untuk kemudian mengaji selepas itu bermain slepetan sarung di lapangan depan surau, festival muharraman yang semarak di lingkungan RW, munggahan (kumpul-kumpul sebelum berpuasa) sambil makan enak yang disediakan secara botram (membawa makanan masing-masing). Padahal budaya adalah hal yang dekat dengan kita untuk mengetahui apa yang meng-hegemoni di masyarakat. Entah apa yang merasuki di tengah ketidaksadaran kita.

Di sisi lain, hal ini diperparah dengan adanya kelompok yang menegasikan produk budaya dalam praktek keseharian. Padahal produk budaya dalam prakteknya bisa diintegrasikan dengan terlebih dahulu mengubah cara pandang (worldview) yang tidak sesuai. Bila hal ini dibiarkan terus-menerus maka ingatan kolektif masyarakat akan berganti dan kita menjadi asing.

 

 

Lagu Pengiring: Cold Play – Reign Of Love
Entah kenapa Cold Play terdengar tidak ramah di telinga saya selepas album Viva la Vida or Death and All His Friends, entah karena preferensi atau umur.

 

Merawat Hasrat dan Ingatan

Posted in Uncategorized by kifaruqi on Februari 19, 2016

Entah apa yang membuat saya sangat sentimentil malam ini, padahal waktu sudah menunjukan pukul 2 malam dan saya harus berangkat bekerja esok pagi. Sekelebat ingatan hampir 12 tahun yang lalu membuat saya kembali menggali kembali masa-masa awal kuliah di daerah sejuk utara Bandung. Saya menyebut sejuk 12 tahun lalu, dimana pagi hari ketika datang ke kampus masih ada embun yang menyambut, berbeda seperti sekarang dimana udara yang dikawinpaksa dengan timbal, asap residu dan debu hasil pembangunan bangunan tinggi di Bandung  membuat kita jadi hoyong nginum goyobod setiap saat.

Tulisan ini tentang menjaga sahabat-sahabat yang ada di sekitar kalian, menjaga lingkaran agar harus tetap bulat dan (mungkin) pejal. Tentang semangat kolektifitas. Tentang Tyas jawa, Ajay, Sapli, Kiagus, Anggit, Insan, Reisman, Arsyi, Shinta dan sahabat-sahabat yang bila saya tulis mungkin akan menghabiskan paragraf ini bila saya sebut satu persatu. Saya masih ingat bagaimana performansi saya di duamester awal kuliah, 36 jam SKS “lupa” absen sehingga menggerakkan jurusan untuk mengeluarkan SP3 terhadap diri saya. SP3 yang sudah ditandatangani dan siap untuk dirilis untuk mengeluarkan saya dari bangku kuliah, yang kurang hanya stempel lembaga pendidikan.

Di hari tepat ketika surat SP3 keluar, sahabat-sahabat yang telah “berikrar” puputan pada hari itu mendatangi jurusan. Menemani saya yang seperti pesakitan, saya yang saat itu mungkin lekas akan merapihi kenangan dan menyimpannya di ujung bumi agar tak ditemukan dan dibaca oleh orang. Ditemani Jawa, Ajay dan Sapli, saya melangkah ragu memasuki ruang sekretaris jurusan. Perasaan “geus bae lah” sudah saya siapkan mendahului ketukan ke pintu dan izin masuk agar bisa duduk di ruangan. Di depan bapak sekretaris jurusan yang berkata “Siapa il ketiga orang ini?” “Bodyguard kamu ya?” sambil mengeluarkan seberkas surat dari laci, dengan cengengesan kami berempat hanya bisa seura-seuri teu puguh, walaupun di tambah getir di ujung bibir saya. Setelah diskusi singkat dan “papatahan” yang diberikan untuk saya, pada akhirnya bapak sekretaris jurusan tersebut urung untuk mengeluarkan surat yang lebih sakti daripada vonis kanker stadium 4 pada saat itu bagi saya. Mungkin beliau melobi jurusan saat itu, entah kita semua kurang tau.

Semenjak hari itu hari saya berubah, layaknya anak TK yang akan berangkat sekolah, kawan-kawan saya tersebut bergantian menjemput agar saya berangkat kuliah, paling sering adalah Tyas Jawa dengan motor yang bututnya minta ampun hingga pernah mogok ketika kita momotoran ke daerah Pengalengan. Ketika malam tiba Ajay dan Sapli lah yang paling sering menemani saya tidur, sambil menghabiskan jatah rokok dan kopi sehari-hari saya. Masih lekat di ingatan, di suatu larut malam Ajay dan Sapli datang ke kamar yang ternyata Ajay baru putus setelah pacaran satu minggu, ya hanya satu minggu..LEBOK tah jay… dan berujung curhat hingga pagi, bisa ditebak jatah rokok dan kopi saya selama satu minggu habis dalam satu malam, dasar homo sapiens!!! rokok & kopi gratis.

Fase tersebut berjalan mulus, perlahan performansi saya berjalan baik, IP diatas tiga, saya mendekati apa yang disebut “mahasiswa” pretttt!!. Kami yang telah berikrar puputan sedari awal dalam berkawan menjalani fase-fase yang keren hingga akhir, banyak peristiwa yang masih saya simpan dalam – apa yang disebut di film sherlock, mind palace – salah satunya sewaktu kami mengadakan momotoran ke Garut yang direncanakan dadakan selepas UAS terakhir, diantara kami tidak ada yang membawa uang lebih dari 20rb, modal kami hanya harapan bahwa kami bisa sampai di Garut dan menumpang makan di rumah kawan yang berdomisili disana, impian kami terwujud karena kami bisa ngabedol balong di rumah seorang kawan di kaki gunung.

Sekarang kita telah menjalani fase masing-masing tapi mungkin dengan pengalaman yang serupa. Tapi kalian tak perlu lah bercerita saat ini, cukup saya yang bercerita agar kalian tau betapa rindunya saya kepada kontinum waktu kita masa itu. Pengalaman yang ingin lekas saya ulang kembali, dihadapan ruang dan waktu yang saya hadapi sekarang ini, di hadapan individualisme dan paham kebendaan yang seolah-olah seperti lubang hitam dengan gaya gravitasinya melebihi gaya para polisi skena yang menyebalkannya minta ampun dari masa ke masa. Yang mau tidak mau kompromi haruslah dibuat, bahkan beberapa orang kontrak mati demi mencapai prestise level yang diraih, kontrak yang mensyaratkan meminjam pundak dibawah untuk diinjak yang sakitnya minta ampun melebihi ditajong ku sapatu lars tangtara dan sikut terujung untuk menjegal. Entah saya yang merasa banal atau kita merasakan hal yang sama, suasana kolektif jarang saya temui di dimensi saat ini tidak seperti kita dahulu yang bahkan rela hingga berbagi satu gelas kopi dan sebatang tembakau.

Mungkin saya menulis ini sebagai terapi untuk menjaga hasrat agar tidak tertarik lubang hitam kebendaan dan individualisme, menjaga kesadaran bahwa dunia yang kita alami saat ini ternyata tidak sedang baik-baik saja. Gak perlu lah saya meminta maaf kepada kalian karena menyebut nama untuk curhatan saya ini, karena saya yakin kalian pasti memaafkan. Jaga diri dan keluarga kalian baik-baik, juga teman disekitaran kalian.

backsound: Blur – My Terracotta Heart

I’m sweating out the toxins. Is my terracotta heart breaking? I don’t know, If I’m losing you again

post script: My Terracotta Heart setelah diseksamai liriknya, sepertinya didedikasikan untuk kejadian ketika Damon sedang “ribut” dengan Coxon. Damon tak ingin “kehilangan” Coxon sebagai sahabat. Jadi sengaja saya putar untuk menemani tulisan ini.

 

Tantangan Zaman

Posted in junk, life by kifaruqi on Januari 30, 2016

Membicarakan millenials menjadi topik yang hangat dalam dunia pemasaran belakangan ini. Menurut data (uncofirmed), di Amerika terdapat lebih dari 80 juta penduduk yang masuk dalam kategori millenials. Mereka adalah masa depan, mereka akrab dengan dunia digital dan mereka adalah pasar yang besar bila dilihat dari kacamata bisnis.

Maka sekarang kita lihat banyak perusahaan digital yang sukses dalam menggarap pasar millenials dan berhasil mengakuisisi komposisi market & customer share, memaksa perusahaan yang disebut “brick and mortar” mulai mengikuti langkah-langkah yang dilakukan perusahaan digital. Perusahaan-perusahaan “brick and mortar” menambahkan mobile apps dan website sebagai channel mereka untuk mencapai pelanggan, memperbaiki experience pelanggan-pelangan mereka dengan tujuan agar tidak tergerus perusahaan digital.

Millenials adalah istilah yang diperkenalkan oleh Williams Strauss dan Neil Howe pada tahun 2000 melalui buku Millenials Rising. Sebelumnya pada tahun 1991 Strauss dan Howe menulis buku Generations, sebuah buku yang menjelaskan siklus generasi di Amerika. Walaupun banyak kritik yang ditujukkan untuk buku-buku Strauss dan Howe dari kritik “teori yang terlalu mengeneralisir” sampai pseudoscience, tetapi buku-buku karya mereka berdua mempengaruhi bidang marketing dan bisnis dalam merumuskan metode baru.

Apa yang sebenarnya Strauss dan Howe lakukan? Mereka berdua melakukan salah satu cabang dari behavioral analytic yang disebut dengan cohort analysis. Strauss dan Howe membagi grup berdasarkan rentang tahun lahir dan kejadian-kejadian besar yang terjadi di sekitar mereka, kejadian-kejadian besar tersebut kemudian mempengaruhi sistem kepercayaan, tata laku dan kebiasaan umum. Akrablah kita saat ini dengan pengelompokkan generasi sosial seperti: Baby Boomers, Generation X, Millenials. Walaupun Strauss dan Howe bukanlah yang pertama dalam generational theory, hasil kerja mereka diakui memberikan stimulus kepada umum untuk mempelajari sociology of generations.

Terlepas dari kritik yang ada, kita secara (tidak) sadar mengakui terjadinya cohort generations dalam pemakluman nilai yang berjalan dari generasi ke generasi. Apa yang tidak dapat diterima oleh umum pada masa muda orang tua kita, mungkin saat ini nilai tersebut oleh sebagian besar orang bisa diterima. Seolah semua hal ada relatif dan dapat diintepretasikan ulang, seolah tidak ada ruang untuk nilai yang tetap. Hal ini menjadi ketakutan tersendiri bagi kami yang sebentar lagi menjadi orang tua, beberapa nilai yang kami yakini biner (kalau tidak 1 berarti 0) saat ini mungkin saja akan dikuantifikasi ulang di zaman anak kami dewasa nanti, dengan alasan zeitgeist!

Kami mencoba membaca ulang ringkasan dari buku Generations nya Strauss dan Howe, ada disclaimer menarik dari mereka berdua: “a cohort-group whose length approximates the span of a phase of life and whose boundaries are fixed by peer personality”. Maka, rekan dalam kawanan adalah koentji!!

 

dark force dan obsesi

Posted in junk, Uncategorized by kifaruqi on Desember 30, 2015

The Sith Code:

Peace is a lie, there is only passion.
Through passion, I gain strength.
Through strength, I gain power.
Through power, I gain victory.
Through victory, my chains are broken.
The Force shall free me.

Siang tadi baru saja kami menyelesaikan ibadah menyaksikan star wars: the force awakens, ibadah yang sempat ditunda dikarenakan beberapa hal. Masih dengan pergulatan yang sama : the light side of the force vs the dark side of the force. Ben (Kylo Ren) sangat terobsesi agar menjadi jedi yang kuat sehingga menyebabkan munculnya sisi gelap dari the force dalam dirinya. Hal yang sebelumnya terjadi kepada Anakin Skywalker (Darth Vader) tetapi dengan obsesi yang berbeda, dark forces Anakin ada dikarenakan rasa takutnya akan kehilangan orang yang dicintai.

Pada tahun 90an, perusahaan sistem operasi terbesar pernah dikritik karena jargon internal mereka: Embrace, extend, and extinguish. Jargon yang digunakan karena mereka mempunyai obsesi ingin menguasai pasar sistem operasi dan dunia internet.

  • Embrace: Mereka bergabung dengan badan-badan standar yang merilis jabaran baku mengenai produk.
  • Extend: kemudian menyelipkan kode baku milik mereka ke dalam produk yang distandarkan.
  • Extinguish: sehingga mau tidak mau bila ada produk rilisan dari perusahaan lain yang ingin berkomunikasi dengan produk mereka, akan ada sisi komersial yang harus dibayar.

Suatu metode monopoli dalam dunia perangkat lunak.

Metode yang sama juga digunakan perusahaan penyedia perangkat telekomunikasi asal negeri bambu (sepertinya), lagi-lagi, dengan obsesi ingin menguasai dunia telekomunikasi. Beberapa kali kami mengikuti Proof of Concept perangkat mereka dan menemukan hal yang janggal dalam berkomunikasi dengan perangkat rilisan perusahaan pesaing.

Obsesi-obsesi yang tidak dikelola dengan baik memang membuat sisi gelap dari “force” naik ke permukaan dan seringkali menjadi dominan. Tidak hanya berlaku pada jedi, pengalaman munculnya dark force -mungkin- juga terjadi pada rekan sebelah anda, obsesi yang seringkali dilatarbelakangi materialisme dalam observasi kami.

Subjek Yang Menyebalkan

Posted in Uncategorized by kifaruqi on September 19, 2015

Selepas waktu kerja di sore menjelang akhir pekan beberapa dari kawan merencanakan dengan ketidaksengajaan berbicara berbagi kabar dan kebetulan kami semua saat ini berada dalam lingkungan yang sama. Ada pembicaraan menarik sore itu mengenai perubahan beberapa teman akhir-akhir ini, lingkungan  yang menuntut untuk mengkonsumsi lebih, menarik mereka jauh ke dalam pusaran hingga berdampak terhadap perubahan berinteraksi dalam kawanan.

Manusia dipandang sebagai subjek ekonomi (homo economicus) memang selalu menyebalkan, dua kesalahan logika fatal manusia sebagai subjek ekonomi ; mendukung kebijakan yang menguntungkan dirinya walaupun kebijakan tersebut merugikan yang lain dan memilih tindakan yang mempunyai dampak yang dirasakan langsung dalam waktu dekat, tanpa melihat dampak jangka panjang dari tindakan yang diambil.

Tosio Yamagishi dan kawan-kawannya pernah melakukan penilitian yang ditulis dalam In Search Of Homo Economicus, mereka melakukan penelitian terhadap sekelompok orang. Ada dua permainan yang diberikan oleh Tosio Yamagishi terhadap sekelompok orang tersebut, yang pertama adalah dictator game dimana mereka diberikan uang dan diberitau bahwa rekan mereka tidak diberi apa-apa, mereka diminta untuk memberikan sejumlah uang terhadap rekan mereka. Yang kedua adalah prisoner’s dilemma game,  kondisi yang diberikan sama dengan permainan pertama bedanya dalam permainan kedua ini adalah setiap $10 yang diberikan terhadap rekannya, rekanan tersebut akan memperoleh $20, jadi bila keduanya saling memberikan $10, maka keduanya dapat memperoleh $40.

Hasilnya, ada sejumlah orang dalam kelompok yang tidak memberikan sama sekali uang kepada rekannya dalam dua permainan tersebut. Menyebalkan bukan.?

Apa yang kita takutkan dengan sejumlah orang yang identik dengan konsep homo economicus,?? Tosio Yamagishi menuliskan jumlah tersebut 7% dari subjek, jumlah yang sangat kecil. Tetapi bila sejumlah kecil orang tersebut ada di posisi yang memegang kuasa dalam struktur sosial maka dampak yang dirasakan akan berimbas struktural pula terutama garis struktur sederajat dan garis struktur ke bawah.

Beruntunglah kita mengenal konsep tolong menolong dan dilatih dalam kehidupan berinteraksi keseharian sedari kecil. Hal yang saya dan kawan takutkan, jangan-jangan teman yang terindikasi berubah bukan karena dorongan mengkonsumsi tetapi lebih kepada kurangnya diri dalam mengenal konsep tolong menolong dalam berinteraksi.???

People must learn to hate, and if they can learn to hate, they can be taught to love. – Nelson Mandela

Customer Segment Wifi.id

Posted in Uncategorized by kifaruqi on Juli 6, 2015

Belakangan ini sedang semangatnya membuat business model canvas untuk bermacam-macam produk, walau dengan kadar ilmu seadanya😀

Selepas senja tadi terfikir untuk melihat model bisnis yang digunakan oleh wifi.id (yang dimiliki oleh Telkom) dan langsung muncul banyak pertanyaan (dan saya jawab sendiri :D) ketika menentukan segmentasi pengguna dari wifi.id. Saya melihat wifi.id terpasang, kebanyakan, di public area dan institusi pendidikan. Berikut:

Pros:

  • Mengapa di public area.? Karena di private area (misal rumah, perkantoran) setiap orang cenderung mempunyai layanan internet masing-masing ; misal berlangganan telkom speedy, indihome atau first media.
  • Mengapa di institusi pendidikan.? Ini yang menarik, pada umumnya institusi pendidikan (kampus, sekolah) tidak mengalokasikan biaya untuk membangun infrastruktur layanan internet yang mumpuni untuk tiap pengguna (guru, murid). Proses belajar mengajar saat ini ditekankan untuk bisa dilakukan 360 derajat, maksudnya tidak hanya selalu dari buku rujukan pelajaran atau guru, saat ini siswa ditekankan untuk bisa mengambil sumber dan materi dari internet. Apalagi kemunculan MOOC sangat membantu akselerasi pengetahuan. Proses belajar mengajar pun tidak selalu hadir di kelas, misalkan dibutuhkan pengajar tamu maka sekolah/kampus tidak perlu menghadirkan pengajar tersebut di kelas, dan banyak contoh lainnya.

Cons:

  • Setiap hadirnya teknologi baru pasti akan mengganti teknologi dan mengubah skema bisnis layanan yang telah dibangun (disruptive technology) . Kemunculan 4G belakangan ini bisa menjadi hambatan untuk model bisnis yang dipunyai oleh wifi.id, layanan internet personal akan dicukupi kebutuhannya dengan hadirnya 4G. Karena secara kecepatan, 4G dapat bersaing dengan kecepatan yang ditawarkan oleh wifi.
  • Teknologi FTTH yang sedang dibangun Telkom lewat indihome bisa jadi juga akan tumpang tindih dengan wifi.id.

Development:

  • Bila cakupan layanan 4G telah berhasil dibangun dan masyarakat mampu membeli layanan tersebut, maka bisa jadi market dari wifi.id akan semakin mengecil dari yang diharapkan. Kolaborasi (service sharing) dan pricing model sepertinya akan sangat menentukan nanti.

notes: dari pengamatan saya wifi.id belum mengambil keuntungan dari layanan mereka, harga yang ditawarkan jauh dibawah para operator telekomunikasi,  mungkin mereka sedang mengejar market value dari pengguna layanan.

*silahkan di-bully*

aku kepo..!!

Posted in free software, junk, life by kifaruqi on Maret 15, 2012

Sampai tadi siang saya penasaran dengan beberapa field type yang berisikan “unknown” dari suatu tools inventory terkenal, cukup menganggu penglihatan juga ternyata.

Nmap masih saya percayai mempunyai basisdata yang lengkap mengenai fingerprinting suatu OS. Atas dasar tersebut genaplah saya membuat suatu automatisasi asal-asalan di tengah miting (saya tak menyimak miting, karena miting tersebut membuat mengantuk dan ujung2nya jualan si vendor hehe).

Akhirnya bisa ketahuan beberapa, walaupun tebakan dari sisi nmap tidak sempurna, setidaknya ada lah yah :p

#!/bin/bash
daftar_alamat=`cat ./daftar_ip`

if [[$EUID -ne 0]]; then
        echo “This script must be run as root”
        exit 1
fi
        for alamat in $daftar_alamat
        do
                echo $alamat `nmap -O $alamat | grep Running`>> hasil_awal

        done

Maap berantakan, da gak jago….hehehehe

Menunggu bedug buka puasa

Posted in junk, life by kifaruqi on Oktober 9, 2011

Ramadhan kemarin, saya dan @amrianneu menghadiri acara yang menampilkan Ua Dodong Kodir sebagai salah satu pembicara – selanjutnya saya panggil dia Ua- . Ua adalah mantan pemusik sanggar tari di STSI (Sekolah Tinggi Seni Indonesia) yang terletak di daerah Buah batu. Alat yang ditampilkan Ua sangat menarik, dari bahan-bahan ‘sampah’ Ua dapat menciptakan alat yang dapat menirukan suara-suara alam. Seperti angin tornado, binatang dan sisanya saya lupa. Dengan alat-alat buatannya tersebut Ua Dodong telah berkeliling dunia dan beberapa-nya disimpan di berbagai museum di luar negeri.

sepulang dari acara tersebut saya dan @amrianneu ngobrol ngalor-ngidul di taman sekitaran tempat acara tersebut diselenggarakan. Salah satunya dia bertanya mengapa kesadaran akan lingkungan hidup sangat rendah di negara berkembang atau negara ketiga, khususnya di negara kita. Contoh kecil, klasifikasi sampah organik dan non-organik hanya ada di tempat sampah di daerah tertentu saja, ketika sampai TPS semua sampah yang mungkin susah payah dipisahkan tersebut akan bercampur kembali, agak sia-sia sepertinya yah.

Dari pembicaraan tersebut saya kembali mengingat teori dari Bung Maslow mengenai ‘A Theory of Human Motivation’, Bung Maslow membagi menjadi lima kebutuhan dasar dari manusia yang disusun dalam bentuk piramid. Sebenarnya saya hanya menyambung-nyambungkan entah benar atau tidak, gak tau!!!. Lima kebutuhan dasar yang dirumuskan oleh Bung Maslow tersebut adalah (saya susun terbalik yes)

  • The Physiological Needs : kebutuhan dasar seperti makan, minum, bernafas, tidur, pipis, buang air besar.
  • The Safety Needs : kesehatan, pekerjaan yang layak, tempat tinggal
  • The Love Needs : keluarga, pertemanan.
  • The Esteem Needs : pengakuan dari orang lain
  • The Need for self actualization : nah ini saya bingung nih apa saja yah, pokoknya “What a man can be, he must be”. Lahirnya kreatifitas mungkin dari sini *capruk mode*

Nah ketika kebutuhan pada piramida terbawah telah terpenuhi maka dia akan berlanjut kepada piramida diatasnya. Sebagian besar dari kita masih banyak yang berkutat pada piramida terbawah, masih banyak yang bergelut untuk mendapatkan makan, minum serta mendapatkan tempat tinggal yang layak. Pernah saya baca di linimasa tuiter -sehingga referensi dari mana saya dapatkan mohon diabaikan, karena sudah lupa- hanya 30% penduduk Indonesia yang berpenghasilan > 3 Juta Rupiah per bulan. Dari data dan teori yang saya comot seenaknya tersebut bisa ditarik kesimpulan bahwa pantaslah kesadaran untuk keadaan lingkungan yang ramah untuk hidup sangat kurang, kita hanya peduli kepada isu lingkungan hidup yang bersinggungan langsung dengan kita misal banjir, asap rokok yang menganggu kita. Solusi yang kita ambil pun biasanya bukan solusi permanen atas hal-hal yang kita alami secara langsung, misal kalau banjir yah pindah rumah. Mungkin bila ada berita banjir di koran atau televisi yang dialami di daerah lain tindakan yang paling jauh kita lakukan adalah mengelus dada dan berkata ‘amit-amit, semoga gak terjadi sama kita yah’.

Tetapi saya pernah menemukan beberapa pencilan dari generalisasi di atas, ah banyak sekali saya temukan. Eh, kalau banyak harusnya tak termasuk pencilan yah hehe.