intermezo with

Mengenang Persentuhan Awal dengan Belle and Sebastian

Posted in Uncategorized by kifaruqi on Agustus 14, 2016

Bulan-bulan basah tahun 2005, ketika hujan menyapu debu jalan Geger Kalong-Ciwaruga. Pada masa itu, hujan selalu menjadi penanda akan adanya peristiwa menarik yang akan menjelang. Termasuk diantaranya ketika harga BBM naik dan beberapa kawan melakukan longmarch Bandung-Jakarta menentang kenaikan harga. Pak Sapardi telah membuat hujan menjadi kata benda yang sentimentil lebih dari enam belas tahun sebelumnya. Semenjak membaca karya Pak Sapardi di tingkat akhir Sekolah Menengah Atas, perasaan sentimentil selalu hadir berkala setiap musim penghujan datang, termasuk sore itu. Saya mempercayai tidak ada peristiwa yang kebetulan, sore selepas jam kuliah sahabat saya Uphei membawa sebuah CD tepat sebelum hujan turun. Format CD menjadi juru selamat bagi para mahasiswa berbiaya pas-pasan seperti saya yang ingin ikut menikmati musik, karena membeli kaset pita mempunyai persamaan linear negatif dengan jatah makan harian. Ditambah lagi dengan perjalanan ke Dewi Sartika atau Dipati Ukur untuk mendapatkan rilisan yang tidak biasa, maka senjakala era kaset pita sedikit banyak patut disyukuri.

Hujan mulai turun. Seperti rangkap dengan alam, Uphei memilihkan lagu Belle and Sebastian – Get Me Away From Here I’m Dying. Suara Stuart Murdoch memenuhi kamar 3×4, beriringan dengan latar rintik air yang mulai deras. Uphei bertugas layaknya terapis di masa awal kuliah ketika otot-otot gendang telinga saya sedang lelah dengan ramones, the clash, sham 69, minor threat, warzone, strife dan segala band punk, oi, hardcore, post-hardcore. Perkenalan awal dengan Uphei, saya sudah lupa momen tepatnya, berawal dari kamar kost seorang kawan, Asep dari Sumedang, yang setiap pagi tidak bosan memutar album pertama Rocket Rockers sambil sesekali bernyanyi mengikuti langgam khas Ucay di lagu She’s My Cheerleader (plis atuh lah sep). Uphei selalu berhasil memberikan nuansa dengan pilihan-pilihan lagunya. Galib diketahui, Uphei adalah sarang curhat bagi mereka yang sedang dilanda kerisauan akan asmara, maka dia akan memilihkan lagu sesuai dengan tema curhat yang sedang berlangsung.

Belle and Sebastian merupakan band yang terbentuk di kota Glasgow pada tahun 1996 yang diniatkan untuk mengerjakan project di Stow College. Walau tidak “sebesar” skena Manchester, banyak band/musisi yang berasal dari Glasgow yang berdiri di lampu sorot panggung, sebut saja Aztec Camera pada era 70an, The Jesus & Mary Chain, Teenage Fanclub di era 80an, kemudian Camera Obscura, Travis, Mogwai pada era yang sama dengan Belle and Sebastian. Walaupun menjamurnya musisi yang berasal dari Glasgow (dan Skotlandia pada umumnya) pada saat itu tetapi ada satu hal mereka mereka sadari, bahwa mereka mempunyai kendala jalur promosi dan distribusi yang menyulitkan untuk berkembang. Sehingga bila ada musisi yang ingin karyanya tersebar luas, mereka harus bergantung ke arah selatan tepatnya di Inggris, sang negara sepersekutuan.

Pada awal kehadirannya, Belle and Sebastian merupakan band yang mistis sekaligus intim. Mistis karena tidak banyak hal didapat mengenai band ini. Padahal pada saat If You’re Feeling Sinister dirilis, album tersebut menyedot perhatian media dan masuk dalam radar para pengkoleksi musik, tetapi Murdoch menolak memberikan keterangan terkait dengan segala hal yang berhubungan dengan band nya. Bahkan majalah sekelas NME pun diacuhkan, mereka hanya berkomunikasi melalui liner-note dan diary online, meninggalkan banyak pertanyaan. Mereka baru membuka komunikasi kepada media secara resmi ketika album Dear Catastrophe Waitress dirilis tahun 2003.

Karena sikap mereka yang tertutup pada media pula yang menyebabkan keintiman dengan para pengagum musik mereka terbentuk. Tahun 1990an adalah awal dari Internet secara masif digunakan, mailing list dan BBs merupakan dua hal yang sangat populer saat itu. Beberapa pengagum Belle and Sebastian menginisiasi mailing list The Sinister, sebuah mailing list yang berisikan para pengagum dari Belle and Sebastian. Pada awalnya mailing list tersebut dibentuk bertujuan untuk mencari informasi segala macam hal mengenai Belle and Sebastian dikarenakan minimnya pemberitaan akan mereka di media. Tetapi mailing list The Sinister berkembang menjadi lokus persahabatan antar penggemar bahkan ajang mencari jodoh, mereka membicarakan segala macam hal didalamnya, tidak selalu Belle And Sebastian-centric. Topik yang dibahas bisa merupakan kesenangan pribadi atau hal-hal yang menarik menurut mereka. Uniknya pada personil Belle and Sebastian terlibat pada mailing list tersebut. Karena mailing list ini pula, banyak yang berkomentar bahwa Belle and Sebastian telah menjadi suatu kultus tersendiri. Dan jangan melupakan Bowlie Weekender, sebuah acara festival yang diadakan selama tiga hari pada bulan Agustus 1999. Band yang tampil pada Bowlie Weekender adalah hasil kurasi dari personil Belle and Sebastian. Festival ini seperti memindahkan para pelanggan mailing list The Sinister ke sebuah tempat untuk berkumpul secara luring.

Keintiman yang dipilih Belle and Sebastian, mengingatkan diri saya akan lingkaran-lingkaran kecil persahabatan yang pernah saya bangun, beberapa lingkaran tidak pernah genap dalam beberapa tahun terakhir karena semangat “will to power” yang mulai merasuk. Tidak ada salahnya saya coba hela sejenak beberapa hal demi menggenapi kembali lingkaran.

Lagu Pengiring: Belle and Sebastian – Get Me Away From Here I’m Dying

Simbol Yang Teralienasi

Posted in Uncategorized by kifaruqi on Mei 18, 2016

Ada dua pendekatan berbeda antara Karl Marx dan Antonio Gramsci dalam hubungan antara base (segala sesuatu untuk memproduksi: tanah, mesin, pabrik, dll) dan superstructure (budaya, kepercayaan, institusi sosial) dalam human society. Marx mengambil pendekatan bahwa superstructure dibentuk dari pandangan para individu yang menguasai/mengontrol yang ada pada base, intinya Marx memberikan prioritas pada base. Segala perubahan yang ada di superstructure haruslah berkaitan dengan perubahan yang lebih dulu terjadi pada base. Marx, boleh dibilang sedikit mengkesampingkan ideologi dalam hubungan antara dua komponen tersebut, karena dalam pandangan Marx ideologi bersifat abstrak dan metafisik. Sehingga, tidak mungkin mensertakan ideologi sebagai faktor yang mendominasi.

Gramsci mempunyai pandangan yang berbeda dengan Marx mengenai hubungan antara base dan superstructure. Menurut Gramsci, ideologi adalah bentuk dari superstructure. Ideologi menurut Gramsci, merupakan instrumen yang melindungi dan menyediakan keberlanjutan dari base (produksi dan faktor produksi). Gramsci merumuskan apa yang disebut dengan hegemoni kultural (cultural hegemony), sebuah konsep yang menyatakan bahwa dominasi, aturan-aturan, nilai-nilai normatif yang terejawentahkan sesuai dengan ideologi yang dianut kelompok yang dominan. Pandangan yang dianut oleh kelompok yang dominan akan disebarkan melalui institusi sosial seperti: institusi pendidikan dan media yang kemudian akan membentuk budaya pada masyarakat. Ketika berbicara budaya dalam konteks sosiologi maka hal tersebut tidak lepas dari simbol-simbol ekspresif seperti norma, nilai, sistem sosial dalam masyarakat. Sehingga apa yang tampak merupakan ekspresi dari pandangan yang dianut. Walaupun menurut Umberto Eco, simbol-simbol ekspresif tersebut bisa jadi merupakan ungkapan nilai kebohongan (atau kebenaran).

Selepas adzan isya, saya duduk bertiga bersama kawan memperbincangkan segala macam hal sebagai alasan agar bisa duduk menghabiskan kopi dalam cangkir. Ada pembicaraan menarik mengenai fenomena saat ini yang kami tangkap kemudian dibandingkan dengan apa yang kami alami sewaktu masa kecil dahulu. Beberapa tanda-tanda yang kami kenal dahulu sedikit demi sedikit menghilang dari masyarakat. Seberapa antusias anak-anak sekarang ketika senja menjelang berbondong-bondong mengisi surau untuk kemudian mengaji selepas itu bermain slepetan sarung di lapangan depan surau, festival muharraman yang semarak di lingkungan RW, munggahan (kumpul-kumpul sebelum berpuasa) sambil makan enak yang disediakan secara botram (membawa makanan masing-masing). Padahal budaya adalah hal yang dekat dengan kita untuk mengetahui apa yang meng-hegemoni di masyarakat. Entah apa yang merasuki di tengah ketidaksadaran kita.

Di sisi lain, hal ini diperparah dengan adanya kelompok yang menegasikan produk budaya dalam praktek keseharian. Padahal produk budaya dalam prakteknya bisa diintegrasikan dengan terlebih dahulu mengubah cara pandang (worldview) yang tidak sesuai. Bila hal ini dibiarkan terus-menerus maka ingatan kolektif masyarakat akan berganti dan kita menjadi asing.

 

 

Lagu Pengiring: Cold Play – Reign Of Love
Entah kenapa Cold Play terdengar tidak ramah di telinga saya selepas album Viva la Vida or Death and All His Friends, entah karena preferensi atau umur.

 

Merawat Hasrat dan Ingatan

Posted in Uncategorized by kifaruqi on Februari 19, 2016

Entah apa yang membuat saya sangat sentimentil malam ini, padahal waktu sudah menunjukan pukul 2 malam dan saya harus berangkat bekerja esok pagi. Sekelebat ingatan hampir 12 tahun yang lalu membuat saya kembali menggali kembali masa-masa awal kuliah di daerah sejuk utara Bandung. Saya menyebut sejuk 12 tahun lalu, dimana pagi hari ketika datang ke kampus masih ada embun yang menyambut, berbeda seperti sekarang dimana udara yang dikawinpaksa dengan timbal, asap residu dan debu hasil pembangunan bangunan tinggi di Bandung  membuat kita jadi hoyong nginum goyobod setiap saat.

Tulisan ini tentang menjaga sahabat-sahabat yang ada di sekitar kalian, menjaga lingkaran agar harus tetap bulat dan (mungkin) pejal. Tentang semangat kolektifitas. Tentang Tyas jawa, Ajay, Sapli, Kiagus, Anggit, Insan, Reisman, Arsyi, Shinta dan sahabat-sahabat yang bila saya tulis mungkin akan menghabiskan paragraf ini bila saya sebut satu persatu. Saya masih ingat bagaimana performansi saya di duamester awal kuliah, 36 jam SKS “lupa” absen sehingga menggerakkan jurusan untuk mengeluarkan SP3 terhadap diri saya. SP3 yang sudah ditandatangani dan siap untuk dirilis untuk mengeluarkan saya dari bangku kuliah, yang kurang hanya stempel lembaga pendidikan.

Di hari tepat ketika surat SP3 keluar, sahabat-sahabat yang telah “berikrar” puputan pada hari itu mendatangi jurusan. Menemani saya yang seperti pesakitan, saya yang saat itu mungkin lekas akan merapihi kenangan dan menyimpannya di ujung bumi agar tak ditemukan dan dibaca oleh orang. Ditemani Jawa, Ajay dan Sapli, saya melangkah ragu memasuki ruang sekretaris jurusan. Perasaan “geus bae lah” sudah saya siapkan mendahului ketukan ke pintu dan izin masuk agar bisa duduk di ruangan. Di depan bapak sekretaris jurusan yang berkata “Siapa il ketiga orang ini?” “Bodyguard kamu ya?” sambil mengeluarkan seberkas surat dari laci, dengan cengengesan kami berempat hanya bisa seura-seuri teu puguh, walaupun di tambah getir di ujung bibir saya. Setelah diskusi singkat dan “papatahan” yang diberikan untuk saya, pada akhirnya bapak sekretaris jurusan tersebut urung untuk mengeluarkan surat yang lebih sakti daripada vonis kanker stadium 4 pada saat itu bagi saya. Mungkin beliau melobi jurusan saat itu, entah kita semua kurang tau.

Semenjak hari itu hari saya berubah, layaknya anak TK yang akan berangkat sekolah, kawan-kawan saya tersebut bergantian menjemput agar saya berangkat kuliah, paling sering adalah Tyas Jawa dengan motor yang bututnya minta ampun hingga pernah mogok ketika kita momotoran ke daerah Pengalengan. Ketika malam tiba Ajay dan Sapli lah yang paling sering menemani saya tidur, sambil menghabiskan jatah rokok dan kopi sehari-hari saya. Masih lekat di ingatan, di suatu larut malam Ajay dan Sapli datang ke kamar yang ternyata Ajay baru putus setelah pacaran satu minggu, ya hanya satu minggu..LEBOK tah jay… dan berujung curhat hingga pagi, bisa ditebak jatah rokok dan kopi saya selama satu minggu habis dalam satu malam, dasar homo sapiens!!! rokok & kopi gratis.

Fase tersebut berjalan mulus, perlahan performansi saya berjalan baik, IP diatas tiga, saya mendekati apa yang disebut “mahasiswa” pretttt!!. Kami yang telah berikrar puputan sedari awal dalam berkawan menjalani fase-fase yang keren hingga akhir, banyak peristiwa yang masih saya simpan dalam – apa yang disebut di film sherlock, mind palace – salah satunya sewaktu kami mengadakan momotoran ke Garut yang direncanakan dadakan selepas UAS terakhir, diantara kami tidak ada yang membawa uang lebih dari 20rb, modal kami hanya harapan bahwa kami bisa sampai di Garut dan menumpang makan di rumah kawan yang berdomisili disana, impian kami terwujud karena kami bisa ngabedol balong di rumah seorang kawan di kaki gunung.

Sekarang kita telah menjalani fase masing-masing tapi mungkin dengan pengalaman yang serupa. Tapi kalian tak perlu lah bercerita saat ini, cukup saya yang bercerita agar kalian tau betapa rindunya saya kepada kontinum waktu kita masa itu. Pengalaman yang ingin lekas saya ulang kembali, dihadapan ruang dan waktu yang saya hadapi sekarang ini, di hadapan individualisme dan paham kebendaan yang seolah-olah seperti lubang hitam dengan gaya gravitasinya melebihi gaya para polisi skena yang menyebalkannya minta ampun dari masa ke masa. Yang mau tidak mau kompromi haruslah dibuat, bahkan beberapa orang kontrak mati demi mencapai prestise level yang diraih, kontrak yang mensyaratkan meminjam pundak dibawah untuk diinjak yang sakitnya minta ampun melebihi ditajong ku sapatu lars tangtara dan sikut terujung untuk menjegal. Entah saya yang merasa banal atau kita merasakan hal yang sama, suasana kolektif jarang saya temui di dimensi saat ini tidak seperti kita dahulu yang bahkan rela hingga berbagi satu gelas kopi dan sebatang tembakau.

Mungkin saya menulis ini sebagai terapi untuk menjaga hasrat agar tidak tertarik lubang hitam kebendaan dan individualisme, menjaga kesadaran bahwa dunia yang kita alami saat ini ternyata tidak sedang baik-baik saja. Gak perlu lah saya meminta maaf kepada kalian karena menyebut nama untuk curhatan saya ini, karena saya yakin kalian pasti memaafkan. Jaga diri dan keluarga kalian baik-baik, juga teman disekitaran kalian.

backsound: Blur – My Terracotta Heart

I’m sweating out the toxins. Is my terracotta heart breaking? I don’t know, If I’m losing you again

post script: My Terracotta Heart setelah diseksamai liriknya, sepertinya didedikasikan untuk kejadian ketika Damon sedang “ribut” dengan Coxon. Damon tak ingin “kehilangan” Coxon sebagai sahabat. Jadi sengaja saya putar untuk menemani tulisan ini.

 

Tantangan Zaman

Posted in junk, life by kifaruqi on Januari 30, 2016

Membicarakan millenials menjadi topik yang hangat dalam dunia pemasaran belakangan ini. Menurut data (uncofirmed), di Amerika terdapat lebih dari 80 juta penduduk yang masuk dalam kategori millenials. Mereka adalah masa depan, mereka akrab dengan dunia digital dan mereka adalah pasar yang besar bila dilihat dari kacamata bisnis.

Maka sekarang kita lihat banyak perusahaan digital yang sukses dalam menggarap pasar millenials dan berhasil mengakuisisi komposisi market & customer share, memaksa perusahaan yang disebut “brick and mortar” mulai mengikuti langkah-langkah yang dilakukan perusahaan digital. Perusahaan-perusahaan “brick and mortar” menambahkan mobile apps dan website sebagai channel mereka untuk mencapai pelanggan, memperbaiki experience pelanggan-pelangan mereka dengan tujuan agar tidak tergerus perusahaan digital.

Millenials adalah istilah yang diperkenalkan oleh Williams Strauss dan Neil Howe pada tahun 2000 melalui buku Millenials Rising. Sebelumnya pada tahun 1991 Strauss dan Howe menulis buku Generations, sebuah buku yang menjelaskan siklus generasi di Amerika. Walaupun banyak kritik yang ditujukkan untuk buku-buku Strauss dan Howe dari kritik “teori yang terlalu mengeneralisir” sampai pseudoscience, tetapi buku-buku karya mereka berdua mempengaruhi bidang marketing dan bisnis dalam merumuskan metode baru.

Apa yang sebenarnya Strauss dan Howe lakukan? Mereka berdua melakukan salah satu cabang dari behavioral analytic yang disebut dengan cohort analysis. Strauss dan Howe membagi grup berdasarkan rentang tahun lahir dan kejadian-kejadian besar yang terjadi di sekitar mereka, kejadian-kejadian besar tersebut kemudian mempengaruhi sistem kepercayaan, tata laku dan kebiasaan umum. Akrablah kita saat ini dengan pengelompokkan generasi sosial seperti: Baby Boomers, Generation X, Millenials. Walaupun Strauss dan Howe bukanlah yang pertama dalam generational theory, hasil kerja mereka diakui memberikan stimulus kepada umum untuk mempelajari sociology of generations.

Terlepas dari kritik yang ada, kita secara (tidak) sadar mengakui terjadinya cohort generations dalam pemakluman nilai yang berjalan dari generasi ke generasi. Apa yang tidak dapat diterima oleh umum pada masa muda orang tua kita, mungkin saat ini nilai tersebut oleh sebagian besar orang bisa diterima. Seolah semua hal ada relatif dan dapat diintepretasikan ulang, seolah tidak ada ruang untuk nilai yang tetap. Hal ini menjadi ketakutan tersendiri bagi kami yang sebentar lagi menjadi orang tua, beberapa nilai yang kami yakini biner (kalau tidak 1 berarti 0) saat ini mungkin saja akan dikuantifikasi ulang di zaman anak kami dewasa nanti, dengan alasan zeitgeist!

Kami mencoba membaca ulang ringkasan dari buku Generations nya Strauss dan Howe, ada disclaimer menarik dari mereka berdua: “a cohort-group whose length approximates the span of a phase of life and whose boundaries are fixed by peer personality”. Maka, rekan dalam kawanan adalah koentji!!

 

dark force dan obsesi

Posted in junk, Uncategorized by kifaruqi on Desember 30, 2015

The Sith Code:

Peace is a lie, there is only passion.
Through passion, I gain strength.
Through strength, I gain power.
Through power, I gain victory.
Through victory, my chains are broken.
The Force shall free me.

Siang tadi baru saja kami menyelesaikan ibadah menyaksikan star wars: the force awakens, ibadah yang sempat ditunda dikarenakan beberapa hal. Masih dengan pergulatan yang sama : the light side of the force vs the dark side of the force. Ben (Kylo Ren) sangat terobsesi agar menjadi jedi yang kuat sehingga menyebabkan munculnya sisi gelap dari the force dalam dirinya. Hal yang sebelumnya terjadi kepada Anakin Skywalker (Darth Vader) tetapi dengan obsesi yang berbeda, dark forces Anakin ada dikarenakan rasa takutnya akan kehilangan orang yang dicintai.

Pada tahun 90an, perusahaan sistem operasi terbesar pernah dikritik karena jargon internal mereka: Embrace, extend, and extinguish. Jargon yang digunakan karena mereka mempunyai obsesi ingin menguasai pasar sistem operasi dan dunia internet.

  • Embrace: Mereka bergabung dengan badan-badan standar yang merilis jabaran baku mengenai produk.
  • Extend: kemudian menyelipkan kode baku milik mereka ke dalam produk yang distandarkan.
  • Extinguish: sehingga mau tidak mau bila ada produk rilisan dari perusahaan lain yang ingin berkomunikasi dengan produk mereka, akan ada sisi komersial yang harus dibayar.

Suatu metode monopoli dalam dunia perangkat lunak.

Metode yang sama juga digunakan perusahaan penyedia perangkat telekomunikasi asal negeri bambu (sepertinya), lagi-lagi, dengan obsesi ingin menguasai dunia telekomunikasi. Beberapa kali kami mengikuti Proof of Concept perangkat mereka dan menemukan hal yang janggal dalam berkomunikasi dengan perangkat rilisan perusahaan pesaing.

Obsesi-obsesi yang tidak dikelola dengan baik memang membuat sisi gelap dari “force” naik ke permukaan dan seringkali menjadi dominan. Tidak hanya berlaku pada jedi, pengalaman munculnya dark force -mungkin- juga terjadi pada rekan sebelah anda, obsesi yang seringkali dilatarbelakangi materialisme dalam observasi kami.

Subjek Yang Menyebalkan

Posted in Uncategorized by kifaruqi on September 19, 2015

Selepas waktu kerja di sore menjelang akhir pekan beberapa dari kawan merencanakan dengan ketidaksengajaan berbicara berbagi kabar dan kebetulan kami semua saat ini berada dalam lingkungan yang sama. Ada pembicaraan menarik sore itu mengenai perubahan beberapa teman akhir-akhir ini, lingkungan  yang menuntut untuk mengkonsumsi lebih, menarik mereka jauh ke dalam pusaran hingga berdampak terhadap perubahan berinteraksi dalam kawanan.

Manusia dipandang sebagai subjek ekonomi (homo economicus) memang selalu menyebalkan, dua kesalahan logika fatal manusia sebagai subjek ekonomi ; mendukung kebijakan yang menguntungkan dirinya walaupun kebijakan tersebut merugikan yang lain dan memilih tindakan yang mempunyai dampak yang dirasakan langsung dalam waktu dekat, tanpa melihat dampak jangka panjang dari tindakan yang diambil.

Tosio Yamagishi dan kawan-kawannya pernah melakukan penilitian yang ditulis dalam In Search Of Homo Economicus, mereka melakukan penelitian terhadap sekelompok orang. Ada dua permainan yang diberikan oleh Tosio Yamagishi terhadap sekelompok orang tersebut, yang pertama adalah dictator game dimana mereka diberikan uang dan diberitau bahwa rekan mereka tidak diberi apa-apa, mereka diminta untuk memberikan sejumlah uang terhadap rekan mereka. Yang kedua adalah prisoner’s dilemma game,  kondisi yang diberikan sama dengan permainan pertama bedanya dalam permainan kedua ini adalah setiap $10 yang diberikan terhadap rekannya, rekanan tersebut akan memperoleh $20, jadi bila keduanya saling memberikan $10, maka keduanya dapat memperoleh $40.

Hasilnya, ada sejumlah orang dalam kelompok yang tidak memberikan sama sekali uang kepada rekannya dalam dua permainan tersebut. Menyebalkan bukan.?

Apa yang kita takutkan dengan sejumlah orang yang identik dengan konsep homo economicus,?? Tosio Yamagishi menuliskan jumlah tersebut 7% dari subjek, jumlah yang sangat kecil. Tetapi bila sejumlah kecil orang tersebut ada di posisi yang memegang kuasa dalam struktur sosial maka dampak yang dirasakan akan berimbas struktural pula terutama garis struktur sederajat dan garis struktur ke bawah.

Beruntunglah kita mengenal konsep tolong menolong dan dilatih dalam kehidupan berinteraksi keseharian sedari kecil. Hal yang saya dan kawan takutkan, jangan-jangan teman yang terindikasi berubah bukan karena dorongan mengkonsumsi tetapi lebih kepada kurangnya diri dalam mengenal konsep tolong menolong dalam berinteraksi.???

People must learn to hate, and if they can learn to hate, they can be taught to love. – Nelson Mandela

Customer Segment Wifi.id

Posted in Uncategorized by kifaruqi on Juli 6, 2015

Belakangan ini sedang semangatnya membuat business model canvas untuk bermacam-macam produk, walau dengan kadar ilmu seadanya😀

Selepas senja tadi terfikir untuk melihat model bisnis yang digunakan oleh wifi.id (yang dimiliki oleh Telkom) dan langsung muncul banyak pertanyaan (dan saya jawab sendiri :D) ketika menentukan segmentasi pengguna dari wifi.id. Saya melihat wifi.id terpasang, kebanyakan, di public area dan institusi pendidikan. Berikut:

Pros:

  • Mengapa di public area.? Karena di private area (misal rumah, perkantoran) setiap orang cenderung mempunyai layanan internet masing-masing ; misal berlangganan telkom speedy, indihome atau first media.
  • Mengapa di institusi pendidikan.? Ini yang menarik, pada umumnya institusi pendidikan (kampus, sekolah) tidak mengalokasikan biaya untuk membangun infrastruktur layanan internet yang mumpuni untuk tiap pengguna (guru, murid). Proses belajar mengajar saat ini ditekankan untuk bisa dilakukan 360 derajat, maksudnya tidak hanya selalu dari buku rujukan pelajaran atau guru, saat ini siswa ditekankan untuk bisa mengambil sumber dan materi dari internet. Apalagi kemunculan MOOC sangat membantu akselerasi pengetahuan. Proses belajar mengajar pun tidak selalu hadir di kelas, misalkan dibutuhkan pengajar tamu maka sekolah/kampus tidak perlu menghadirkan pengajar tersebut di kelas, dan banyak contoh lainnya.

Cons:

  • Setiap hadirnya teknologi baru pasti akan mengganti teknologi dan mengubah skema bisnis layanan yang telah dibangun (disruptive technology) . Kemunculan 4G belakangan ini bisa menjadi hambatan untuk model bisnis yang dipunyai oleh wifi.id, layanan internet personal akan dicukupi kebutuhannya dengan hadirnya 4G. Karena secara kecepatan, 4G dapat bersaing dengan kecepatan yang ditawarkan oleh wifi.
  • Teknologi FTTH yang sedang dibangun Telkom lewat indihome bisa jadi juga akan tumpang tindih dengan wifi.id.

Development:

  • Bila cakupan layanan 4G telah berhasil dibangun dan masyarakat mampu membeli layanan tersebut, maka bisa jadi market dari wifi.id akan semakin mengecil dari yang diharapkan. Kolaborasi (service sharing) dan pricing model sepertinya akan sangat menentukan nanti.

notes: dari pengamatan saya wifi.id belum mengambil keuntungan dari layanan mereka, harga yang ditawarkan jauh dibawah para operator telekomunikasi,  mungkin mereka sedang mengejar market value dari pengguna layanan.

*silahkan di-bully*

aku kepo..!!

Posted in free software, junk, life by kifaruqi on Maret 15, 2012

Sampai tadi siang saya penasaran dengan beberapa field type yang berisikan “unknown” dari suatu tools inventory terkenal, cukup menganggu penglihatan juga ternyata.

Nmap masih saya percayai mempunyai basisdata yang lengkap mengenai fingerprinting suatu OS. Atas dasar tersebut genaplah saya membuat suatu automatisasi asal-asalan di tengah miting (saya tak menyimak miting, karena miting tersebut membuat mengantuk dan ujung2nya jualan si vendor hehe).

Akhirnya bisa ketahuan beberapa, walaupun tebakan dari sisi nmap tidak sempurna, setidaknya ada lah yah :p

#!/bin/bash
daftar_alamat=`cat ./daftar_ip`

if [[$EUID -ne 0]]; then
        echo “This script must be run as root”
        exit 1
fi
        for alamat in $daftar_alamat
        do
                echo $alamat `nmap -O $alamat | grep Running`>> hasil_awal

        done

Maap berantakan, da gak jago….hehehehe

Menunggu bedug buka puasa

Posted in junk, life by kifaruqi on Oktober 9, 2011

Ramadhan kemarin, saya dan @amrianneu menghadiri acara yang menampilkan Ua Dodong Kodir sebagai salah satu pembicara – selanjutnya saya panggil dia Ua- . Ua adalah mantan pemusik sanggar tari di STSI (Sekolah Tinggi Seni Indonesia) yang terletak di daerah Buah batu. Alat yang ditampilkan Ua sangat menarik, dari bahan-bahan ‘sampah’ Ua dapat menciptakan alat yang dapat menirukan suara-suara alam. Seperti angin tornado, binatang dan sisanya saya lupa. Dengan alat-alat buatannya tersebut Ua Dodong telah berkeliling dunia dan beberapa-nya disimpan di berbagai museum di luar negeri.

sepulang dari acara tersebut saya dan @amrianneu ngobrol ngalor-ngidul di taman sekitaran tempat acara tersebut diselenggarakan. Salah satunya dia bertanya mengapa kesadaran akan lingkungan hidup sangat rendah di negara berkembang atau negara ketiga, khususnya di negara kita. Contoh kecil, klasifikasi sampah organik dan non-organik hanya ada di tempat sampah di daerah tertentu saja, ketika sampai TPS semua sampah yang mungkin susah payah dipisahkan tersebut akan bercampur kembali, agak sia-sia sepertinya yah.

Dari pembicaraan tersebut saya kembali mengingat teori dari Bung Maslow mengenai ‘A Theory of Human Motivation’, Bung Maslow membagi menjadi lima kebutuhan dasar dari manusia yang disusun dalam bentuk piramid. Sebenarnya saya hanya menyambung-nyambungkan entah benar atau tidak, gak tau!!!. Lima kebutuhan dasar yang dirumuskan oleh Bung Maslow tersebut adalah (saya susun terbalik yes)

  • The Physiological Needs : kebutuhan dasar seperti makan, minum, bernafas, tidur, pipis, buang air besar.
  • The Safety Needs : kesehatan, pekerjaan yang layak, tempat tinggal
  • The Love Needs : keluarga, pertemanan.
  • The Esteem Needs : pengakuan dari orang lain
  • The Need for self actualization : nah ini saya bingung nih apa saja yah, pokoknya “What a man can be, he must be”. Lahirnya kreatifitas mungkin dari sini *capruk mode*

Nah ketika kebutuhan pada piramida terbawah telah terpenuhi maka dia akan berlanjut kepada piramida diatasnya. Sebagian besar dari kita masih banyak yang berkutat pada piramida terbawah, masih banyak yang bergelut untuk mendapatkan makan, minum serta mendapatkan tempat tinggal yang layak. Pernah saya baca di linimasa tuiter -sehingga referensi dari mana saya dapatkan mohon diabaikan, karena sudah lupa- hanya 30% penduduk Indonesia yang berpenghasilan > 3 Juta Rupiah per bulan. Dari data dan teori yang saya comot seenaknya tersebut bisa ditarik kesimpulan bahwa pantaslah kesadaran untuk keadaan lingkungan yang ramah untuk hidup sangat kurang, kita hanya peduli kepada isu lingkungan hidup yang bersinggungan langsung dengan kita misal banjir, asap rokok yang menganggu kita. Solusi yang kita ambil pun biasanya bukan solusi permanen atas hal-hal yang kita alami secara langsung, misal kalau banjir yah pindah rumah. Mungkin bila ada berita banjir di koran atau televisi yang dialami di daerah lain tindakan yang paling jauh kita lakukan adalah mengelus dada dan berkata ‘amit-amit, semoga gak terjadi sama kita yah’.

Tetapi saya pernah menemukan beberapa pencilan dari generalisasi di atas, ah banyak sekali saya temukan. Eh, kalau banyak harusnya tak termasuk pencilan yah hehe.

.130287 dan .130287050686

Posted in junk, life by kifaruqi on Agustus 18, 2011

Pada bukunya yang berjudul Tipping Point, Malcolm Gladwell mengawali bukunya dengan cerita tentang penjualan Hush Puppies pada tahun 90-an awal. Hush Puppies kembali menjadi mode ketika sepatu tersebut dipakai oleh sekelompok orang sosialita di kawasan Manhattan, setelah sebelumnya penjualan mereka menurun.

Mundur ke tahun 1960-an Edward Lorenz seorang matematikawan dan metereolog dari MIT mengadakan penelitian mengenai model matematik untuk memprediksi cuaca. Dia melakukan percobaan dengan menggunakan input yang berbeda beberapa angka di belakang koma pada persamaan yang telah ia temukan untuk memprediksi cuaca. Hasilnya, dia menemukan perbedaan signifikan dari kedua hasil percobaan tersebut. Dari hasil percobaan tersebut Lorenz mempopulerkan istilah ‘Butterfly Effect’.

Butterfly effect merupakan istilah untuk menjelaskan bagaimana satu perubahan kecil dapat berpengaruh secara signifikan kepada hasil dari suatu sistem. Butterfly effect bekerja pada sistem yang non-linear dimana untuk menjelaskan sistem linear dan non-linear mungkin cara lebih mudah dengan menggunakan persamaan garis linear dan non-linear. Pada persamaan sistem persamaan linear variable yang digunakan hanya mempunyai pangkat satu (tidak lebih dari satu), sedangkan untuk sistem persamaan non-linear variable-variable mempunyai pangkat lebih dari satu.

Hidup ini termasuk ke dalam sistem yang non-linear ternyata, hal sekecil apapun yang kita perbuat sekarang akan berpengaruh terhadap hidup kita bahkan orang lain di sekeliling kita. Coba kita ingat kembali kira-kira hal apa yang terjadi di masa lampau bisa menjadikan kita berada di keadaan seperti sekarang ini. Jangan lupa ingat juga perbuatan buruk kita yang mungkin secara sengaja atau tidak sengaja yg pernah kita lakukan, mungkin saja perbuatan buruk kita telah mempengaruhi kehidupan orang lain, secara fisik ataupun mental.

– Don’t Be Evil, You Can Make Money Without Doing Evil – Google

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.