Bandung, sore setelah hujan
Terkadang dalam bertindak spontan kita akan melakukan sesuatu hal baru yang tidak kita temukan di dalam rutinitas kita sehari-hari. Ketika keinginan untuk bertindak spontan ini muncul maka jangan pernah berkata ‘tidak’ untuk melakukannya, jangan pernah mengurungkan niat.
Hujan ketika sore hari kemarin di daerah Bandung membuat saya ingin melakukan kegiatan favorit yang sudah lama tidak saya lakukan, yaitu berjalan kaki. Saya niatkan berjalan kaki tanpa arah tapi bukan tanpa tujuan karena tujuan saya adalah pulang menuju rumah sore itu.
Dengan berjalan kaki saya bisa melihat hal-hal disekeliling yang tidak pernah saya perhatikan ketika melewati daerah tersebut dengan menaiki kendaraan seperti mobil atau motor, walaupun saya sering melewati daerah tersebut. Sepanjang saya berjalan banyak hal-hal ‘baru’ yang saya temui, banyak ide-ide yang terbesit. Kemudian saya menyadari bahwa hal ini ada relevansinya dengan kehidupan sehari-hari saya.
Relevansi tersebut adalah bahwa saya sering terburu-buru dalam hidup, saya terlalu terbawa oleh arus yang sebenarnya arus tersebut adalah arus yang artifisial, yang terkadang membuat saya lupa bahwa perlu berhenti sejenak untuk kembali memikirkan hakikat hidup, sehingga seringkali saya kehilangan orientasi ketika terbawa arus buatan tersebut, tenggelam didalamnya dan dibawanya diri saya ini menuju tepian jurang.
Maka ‘perlahankanlah’ hidup sejenak untuk memikirkan kembali cita-cita, tujuan hidup serta melihat hal di sekitar bahwa sebenarnya dunia sedang tidak baik-baik saja. Sehingga hidup tidak terbawa oleh arus yang begitu deras, ‘arus buatan’. Jangan, jangaan sampai saya terbawa olehnya. Saya harus mendayung ke tepian, ke tujuan saya, menuju pelabuhan cita-cita saya.
“Jangan berhenti tangan mendayung. Nanti arus membawa hanyut” – alm M. Natsir
Note: Berikut jalur perjalanan kaki saya sore itu, dimulai dari jalan Riau-Banda-Sumbawa-Aceh-Sumatera-Veteran dan berakhir di bubur pelana di jalan Burangrang

tinggalkan komentar